Jakarta – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang bertepatan dengan libur panjang akhir pekan, kawasan pecinan Glodok, Jakarta Barat, kembali dipadati pengunjung. Di tengah lampion merah yang bergelantungan dan deretan ruko tua yang sarat sejarah, kawasan ini tak hanya menjadi tujuan wisata budaya dan belanja, tetapi juga destinasi kuliner yang semakin ramah bagi semua kalangan.
Riuh langkah kaki terdengar sejak pagi. Keluarga datang bersama anak-anak, wisatawan lokal sibuk mengabadikan sudut-sudut pecinan, sementara aroma masakan dari berbagai kedai menguar memenuhi udara. Glodok seolah hidup kembali, menghadirkan suasana perayaan yang akrab sekaligus hangat.
Kawasan yang identik dengan nuansa budaya Tionghoa ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Selain menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, Glodok juga menyimpan pengalaman kuliner yang tidak terpisahkan dari denyut kehidupannya. Namun, bagi sebagian pengunjung—khususnya wisatawan Muslim—berwisata ke kawasan pecinan kerap diiringi pertanyaan tentang keamanan dan kenyamanan konsumsi makanan.
Stigma lama yang melekat pada kuliner pecinan perlahan memudar. Meski dikenal erat dengan budaya Tionghoa, kawasan Glodok tidak serta-merta menghadirkan kuliner nonhalal secara menyeluruh. Seiring waktu, sejumlah pedagang mulai menghadirkan menu halal atau setidaknya ramah bagi Muslim dan Muslimah.
Perubahan itu terlihat jelas di sejumlah titik, salah satunya di area Petak Enam. Di ruang kuliner yang memadukan arsitektur lama dan konsep modern ini, pengunjung dapat menemukan mi ayam halal, nasi goreng seafood tanpa arak, aneka olahan ayam, hingga camilan tradisional yang diolah dengan bahan yang disesuaikan.
Bagi Dina (35), warga Bekasi yang datang bersama keluarganya, kejelasan informasi menjadi kunci. “Selama ada keterangan yang jelas, kami merasa lebih aman. Anak-anak juga bisa makan tanpa rasa khawatir,” ujarnya sambil menunggu pesanan datang.
Tak hanya di pusat kuliner modern, adaptasi juga terjadi di gang-gang lama Glodok. Beberapa pedagang yang telah berjualan puluhan tahun memilih menyesuaikan resep demi menjangkau pengunjung yang lebih luas. Mereka terbuka menjelaskan bahan dan proses memasak kepada pembeli—sebuah praktik sederhana yang mencerminkan kesadaran akan perlindungan konsumen di ruang publik yang ramai.
Di tengah padatnya kawasan saat libur panjang, keterbukaan itu menjadi penting. Keamanan publik tidak hanya menyangkut ketertiban dan kenyamanan fisik, tetapi juga rasa aman dalam memilih dan mengonsumsi makanan. Transparansi pedagang menjadi bentuk tanggung jawab sosial yang nyata.
Di satu sudut meja panjang, sekelompok pemuda Muslim tampak menikmati bakso ikan, sementara di sisi lain pasangan lansia keturunan Tionghoa berbincang santai ditemani secangkir teh hangat. Pemandangan seperti ini kini menjadi hal biasa di Glodok—ruang di mana perbedaan melebur dalam aktivitas sehari-hari.
Meski demikian, tantangan masih ada. Tidak semua kedai telah memiliki sertifikasi halal resmi. Sebagian masih mengandalkan penjelasan lisan dan kepercayaan. Namun, kesadaran untuk bergerak ke arah sana terus tumbuh, seiring meningkatnya kebutuhan konsumen dan harapan agar usaha kuliner tetap berkelanjutan.
Menjelang sore, cahaya matahari memantul di lantai batu, sementara suara azan dari kejauhan bersahut dengan lonceng vihara di sekitar kawasan. Glodok tetap ramai, namun terasa bersahabat.
Menjajal ragam kuliner halal di pecinan Glodok bukan sekadar urusan rasa. Ia menjadi potret kawasan bersejarah yang belajar membuka diri, merawat ruang bersama, dan memastikan setiap pengunjung—apa pun latar belakangnya—dapat menikmati perayaan dengan aman dan nyaman.
