Serang (initogel login) — Air cokelat itu merangsek pelan namun pasti, menyusup ke lorong-lorong yang seharusnya steril dan tenang. Di RSUD Kota Serang, banjir mengubah rutinitas medis menjadi situasi darurat kemanusiaan. Pasien dipapah, sebagian bahkan digendong oleh petugas, demi memastikan keselamatan mereka saat genangan terus meninggi.
Pemandangan ini bukan sekadar potret bencana, melainkan cerita tentang ketangguhan dan empati—ketika sumpah profesi diuji oleh alam, dan keselamatan manusia menjadi satu-satunya kompas.
Air Naik, Waktu Menyempit
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Serang menyebabkan air masuk ke area layanan rumah sakit. Beberapa ruang terdampak, membuat aktivitas medis terganggu. Dalam kondisi itu, keputusan cepat harus diambil: memindahkan pasien ke area lebih aman, menjaga aliran layanan esensial, dan mencegah kepanikan.
Petugas medis dan nonmedis bergerak serentak. Ada yang menyiapkan jalur evakuasi, ada yang mengamankan peralatan, ada pula yang fokus pada satu tugas paling penting—menyelamatkan pasien.
Human Interest: Dipapah dengan Penuh Kesabaran
Di lorong yang licin, seorang perawat memapah pasien lansia yang tampak gemetar. Di sudut lain, dua petugas menggendong pasien yang tak mampu berjalan. “Pelan-pelan, Pak, kami di sini,” ucap seorang petugas, menenangkan di tengah kecemasan.
Bagi pasien dan keluarga, momen itu akan selalu diingat. Ketika fasilitas lumpuh sementara, kehadiran manusia—sentuhan, kata-kata, dan keberanian—menjadi obat paling ampuh.
Keamanan Publik dalam Situasi Krisis
Banjir di rumah sakit adalah ujian keamanan publik. RSUD sebagai fasilitas vital harus tetap berfungsi di tengah bencana. Petugas memastikan prioritas: pasien gawat darurat, ibu hamil, bayi, dan lansia dipindahkan lebih dulu. Jalur listrik dan oksigen dijaga agar tetap aman, sementara koordinasi dilakukan dengan instansi terkait.
Langkah-langkah ini penting untuk mencegah risiko lanjutan—infeksi, cedera akibat terpeleset, atau keterlambatan penanganan medis.
Aspek Hukum dan Tanggung Jawab Layanan
Sebagai layanan publik, rumah sakit memiliki kewajiban menjamin keselamatan pasien. Dalam kondisi force majeure seperti banjir, protokol darurat menjadi pegangan. Evakuasi, dokumentasi medis, dan kontinuitas layanan harus tetap berjalan sesuai standar, meski dengan keterbatasan.
Pengalaman ini kembali menegaskan pentingnya audit risiko bencana, perbaikan drainase, dan rencana kontinjensi yang matang—agar kejadian serupa dapat diminimalkan.
Solidaritas yang Menguat
Tak hanya petugas, keluarga pasien dan warga sekitar ikut membantu—mengangkat barang, membuka jalur, dan saling menguatkan. Di tengah genangan, solidaritas tumbuh spontan. Rumah sakit berubah menjadi ruang gotong royong, tempat hierarki mencair demi satu tujuan: keselamatan bersama.
Pelajaran dari Air yang Datang
Banjir di RSUD Kota Serang meninggalkan pelajaran pahit sekaligus harapan. Bahwa infrastruktur kesehatan perlu diperkuat menghadapi cuaca ekstrem yang kian sering. Bahwa kesiapsiagaan bukan pilihan, melainkan keharusan. Dan bahwa di saat paling sulit, kemanusiaan selalu menemukan jalannya.
Penutup
Pasien yang dipapah dan digendong petugas di RSUD Kota Serang adalah potret nyata pengabdian. Di tengah air yang menggenang, mereka memilih berdiri di garis depan—menjaga nyawa, menenangkan hati, dan memastikan tak satu pun tertinggal.
Banjir mungkin merusak lantai dan lorong, tetapi tidak mampu menggenangi nurani. Dan dari sanalah harapan mengalir—bahwa layanan publik akan terus hadir, bahkan ketika alam menguji batasnya.

